Pimpinan Perguruan Islam Arrisalah Padang, H. Irsyad Syafar, LC, M.Ed, dipercaya sebagai Khatib Idul Fitri 1 Syawal, 1434 Hijriyah, di Kota Payakumbuh. Rapat Panitia Hari Besar Islam (PHBI) kota ini, menyepakati, Irsyad Syafar layak memberikan tausyiah didepan jemaah shalat Id’ yang diperkirakan juga akan diikuti ratusan perantau yang berlebaran di Payakumbuh.
Sekretaris Daerah Kota Payakumbuh Ir. H. Benni Warlis, MM, didampingi Kabag Kesra Setdako Yonrefli, S.Sos, di Balaikota di Bukik Sibaluik Payakumbuh, Selasa (30/7), menginformasikan, pelaksanaan shalat Id’, seperti tahun-tahun sebelumnya, tetap memanfaatkan badan jalan utama di jantung kota, pertigaan Jalan Sukarno-Hatta, Jalan Sudirman dan Jalan A. Yani. Atau di kawasan Tugu Adipura depan eks kantor bupati.
“Mohon maaf, pemerintah kota belum mampu menyediakan lokasi shalat Id yang lebih representatif buat warga kota, karena keterbatasan lahan yang ada. Mudah-mudahan, jika suatu saat nanti pemko sudah membangun land mark Luak Limopuluah atau ruang terbuka hijau di eks tanah Poliko dan es kantor bupati, kegiatan shalat Id’ dan hari raya Qurban, dapat dilaksanakan di areal tersebut,” jelas Benni.
Selain penetapan khatib Id’, rapat PHBI juga memutuskan penunjukan Sepdi Wasih, S. M.Ik, dosen STAIDA Payakumbuh, sebagai imam pada shalat Id’ tersebut. Kemungkinan jatuhnya 1 Syawal, sama seperti telah ditetapkan Muhammadyah dan PBNU, Kamis (8/8).
“Kita berharap, muslimin dan muslimah dari berbagai penjuru kota dan perantau yang pulang kampung ikut shalat Id’ dengan pimpinan kota serta jajaran pemerintah lainnya di kawasan Tugu Adipura,” ajak Benni.
Sehari sebelum shalat Id’, Rabu (7/8), malam, dilaksanakan malam takbiran, melibatkan Muspida, DPRD, SKPD, Ormas Islam dan pengurus masjid. Takbiran akan dilepas Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi, di halaman rumah dinas kediaman walikota di Jalan Rky. Rasuna Said Payakumbuh.
Untuk selanjutnya, rombongan konvoi mobil takbiran ini menuju Labuh Basilang, Limbukan, Simpang Kejaksaan, Simpang Napar, Simpang Kaniang Bukik, Simpang Benteng dan berakhir di depan SMPN 1.
Kegiatan takbiran diakhiri dengan malam seribu dedug, di bawah kordinator Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Payakumbuh. Walikota Riza Falepi, Wawako Suwandel Muchtar dan anggota Muspida akan ikut memukul bedug pada malam seribu takbir itu, simpulnya.
payakumbuh kota / Nesa Morena
Tampilkan postingan dengan label payakumbuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label payakumbuh. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Agustus 2013
Jumat, 10 Mei 2013
Jalan Lingkar Luar Payakumbuh Makin Dilirik Investor
Jalan Diponegoro atau dikenal dengan lingkar luar bagian utara (JLLBU) sepanjang lebih kurang 12 Km, dari Pakan Sinayan di Kecamatan Payakumbuh Barat hingga Kelurahan Tanjung Anau di Kecamatan Payakumbuh Utara, bakal menjadi pertumbuhan ekonomi baru. Tanah warga disepanjang jalan itu, makin dilirik pemilik modal besar. Sejumlah industri kecil bertumbuhan. Diproyeksikan, beberapa hotel berbintang pun akan hadir di kawasan tersebut.
Sekdako Payakumbuh Ir. H. Benni Warlis, MM didampingi Kepala Badan Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Elzadaswarman, SKM, MPPM, di Balaikota Payakumbuh, Selasa (7/5), menginformasikan, puluhan industri makanan khas, seperti rakik kacang, sanjai dan karak kaliang sudah berdiri. Kemudian, juga diikuti industri pengolahan batu split dan batu kapur, perbengkelan. Sementara itu, di ruas jalan itu juga sudah bangunan SPPBE (Stasiun Pengisian dan Pengakutan Bulk Elpiji).
Sementara itu, sejumlah pemilik modal nasional, juga berencana untuk membangun hotel berbintang dan show room kendaraan roda empat berskala besar. Selain, bangunan rumah dan toko. JLLBU tak obah bagaikan sebongkah gula yang digerubungi semut, kata sekdako.
Menurut Sekdako Benni Warlis, beberapa investor lokal di Payakumbuh, juga berencana akan membuka sebuah usaha peternakan. Di antaranya, Eki Anas, pemilik SPBU di JLLBU. Proposal yang bersangkutan untuk membuka usah di kawasan jalan lingkar itu, dibahas oleh tim Pemko, dalam acara di ruang rapat kepala daerah, Selasa (7/5).
Dalam memberikan persetujuan sebuah usaha kepada investor, menurut Benni, harus dilakukan analisa teknis dari sejumlah SKPD terkait, seperti Bappeda, DPPKA, Dinas Tata Ruang, Lingkungan Hidup, Pekerjaan Umum, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Dinas Perhubungan Komunikasi, kecamatan dan pihak kelurahan. Pasalnya, setiap jengkal tanah di Jalan Diponegoro itu, sesuai rencana tata ruang dan rencana wilayah, sudah ditentukan peruntukannya.
Tapi yang jelas, kata Benni, pemko tetap membuka pintu selebar-lebarnya kepada setiap pengusaha yang ingin menanam modal di kota ini. Untuk itu, pemko Badan Penanaman Modal Daerah Pelayanan Terpadu Satu Pintu, akan memfasilitasi setiap pemilik modal yang datang. Sesuai prosedural, setiap investor yang datang sudah terukur lama yang bersangkutan berurusan di badan penanaman modal, simpulnya.
payakumbuhkota/nesa
Jumat, 11 Januari 2013
Perlombaan Pacu Kuda di Payakumbuh
Pada tanggal 3 - 4 Februari 2013, akan diadakan perlombaan pacu kuda di Gelanggang Kubu Gadang, Payakumbuh.
Seperti yang diberitakan antarasumbar.com, Iven pacu kuda Payakumbuh akan digelar di gelanggang Kubu Gadang pada 3 hingga 4 Februari 2013.
Ketua Panitia Suwandel Muchtar, Jumat, mengatakan iven pacu kuda Payakumbuh ini diprediksi akan diikuti ratusan ekor kuda dari berbagai daerah.
"Kuda yang turun pada kejuaraan di Polo Mas diperkirakan juga akan ikut berlomba dalam iven milik rakyat Luak Limopuluah ini," kata Suwandel.
Suwandel Muchtar yang juga Wakil Wali Kota Payakumbuh bertekad pacuan kuda di Payakumbuh kali ini lebih meriah dan nyaman untuk ditonton. Karena itu dia meminta seluruh panitia pelaksana agar melaksanakan tugas dengan baik.
“Ini iven milik rakyat yang harus dilaksanakan seoptimal mungkin,” kata dia.
Sepekan menjelang pacu kuda digelar, sebut Suwandel, kuda-kuda yang akan bertarung akan melakukan pengukuran, dan mengecek kesehatan kuda.
Menurut Suwandel, jumlah hadiah yang akan diberikan kepada pemenang pada pacu kuda Payakumbuh akan diusahakan untuk ditingkatkan dari tahun sebelumnya.
Nomor perlombaan akan dimulai dari jarak 800 meter, 1.000 meter, 1.200 meter, sampai ke pacu book jarak 1.600 meter. Jarak istimewa juga akan dilombakan untuk jarak 1.800 dan 2.000 meter.
Seperti yang diberitakan antarasumbar.com, Iven pacu kuda Payakumbuh akan digelar di gelanggang Kubu Gadang pada 3 hingga 4 Februari 2013.
Ketua Panitia Suwandel Muchtar, Jumat, mengatakan iven pacu kuda Payakumbuh ini diprediksi akan diikuti ratusan ekor kuda dari berbagai daerah.
"Kuda yang turun pada kejuaraan di Polo Mas diperkirakan juga akan ikut berlomba dalam iven milik rakyat Luak Limopuluah ini," kata Suwandel.
Suwandel Muchtar yang juga Wakil Wali Kota Payakumbuh bertekad pacuan kuda di Payakumbuh kali ini lebih meriah dan nyaman untuk ditonton. Karena itu dia meminta seluruh panitia pelaksana agar melaksanakan tugas dengan baik.
“Ini iven milik rakyat yang harus dilaksanakan seoptimal mungkin,” kata dia.
Sepekan menjelang pacu kuda digelar, sebut Suwandel, kuda-kuda yang akan bertarung akan melakukan pengukuran, dan mengecek kesehatan kuda.
Menurut Suwandel, jumlah hadiah yang akan diberikan kepada pemenang pada pacu kuda Payakumbuh akan diusahakan untuk ditingkatkan dari tahun sebelumnya.
Nomor perlombaan akan dimulai dari jarak 800 meter, 1.000 meter, 1.200 meter, sampai ke pacu book jarak 1.600 meter. Jarak istimewa juga akan dilombakan untuk jarak 1.800 dan 2.000 meter.
Senin, 10 Desember 2012
Lowongan Kerja Teller di Bank Syariah Mandiri
[caption id="attachment_4725" align="aligncenter" width="171"]
PT Bank Syariah Mandiri[/caption]
Kami salah satu perusahaan perbankan syariah terkemuka di Indonesia membuka kesempatan berkarir bagi putera puteri terbaik untuk mengisi posisi :
Requirements:
via jobstreet
closing date: 27 - 12 - 12
Kami salah satu perusahaan perbankan syariah terkemuka di Indonesia membuka kesempatan berkarir bagi putera puteri terbaik untuk mengisi posisi :
Teller (TL)
Sumatera Barat
Requirements:
- Pendidikan minimal D3 semua jurusan
- Mampu bekerja secara Team dan mencapai target
- Diutamakan kandidat putera daerah + aktivis organisasi dan berpengalaman di bidangnya
- IPK minimal : 3.00 ( skala 4.00 )
- Wilayah Penempatan : Payakumbuh, Limapuluh Kota dan Pangkalan
Kirimkan Lamaran lengkap, CV, foto seluruh badan dan pas foto Anda ke:
PO. BOX 188
PAYAKUMBUH
via jobstreet
closing date: 27 - 12 - 12
Selasa, 04 Desember 2012
MTB Gowes Bareng Hut PSN Ke-2
Kamis, 01 November 2012
Payakumbuh Akan Bangun Bandara, Tim Teknis Tinjau Lokasi
antarasumbar.com | Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menurunkan tim teknis terpadu untuk meninjau rencana pembangunan bandara di Kota Payakumbuh, Rabu (31/10).
Tim yang terdiri dari unsur Otoritas Bandara Wilayah VI dan Badan Meteologi dan Geofisika serta Konsultan Bandara dari Jakarta tersebut dipimpin Plt Kabid Perhubungan Udara Dishubkom Sumbar, Zulham.
Tim tekhnis provinsi itu didampingi Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi, Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi Adrian, Kepala Bidang Binamarga Dinas Pekerjaan Umum diwakili Zul Arman, Asisten I Yoherman, Asisten II Benni Warlis, serta ketiga staf ahli wali kota turun ke rebcana lokasi bandara di kawasan Tanjung Anau, Talawi dan Balai Betung, Kecamatan Payakumbuh Utara.
Plt. Kabid Perhubungan Udara, Zulham, didampingi Kasi Angkutan Udara, Efnida, menilai rencana lokasi yang disiapkan Pemkot Payakumbuh untuk bandara, cukup baik. Luas minimal 200 hektar sangat memadai, kontur alamnya juga terbuka dan bebas pandang.
Meski demikian menurut Zulham, pihaknya masih butuh lama untuk dapat mengeluarkan rekomendasi, apakah di kawasan yang direncanakan Pemkot Payakumbuh itu tepat dijadikan bandar udara.
"Yang jelas semangat Wali Kota Payakumbuh, Riza Falepi bersama masyarakat Payakumbuh membangun bandara ini sangat pantas diapresiasi," kata Zulham.
Syafrizal anggota tim dari Badan Metreologi dan Geofisika menambahkan, untuk menentukan arah angin saja, minimal satu bulan dilakukan pengujiannya yang tidak boleh terputus.
"Idealnya, menentukan arah angin, memakan waktu tahunan. Karena arah angin ini sangat diperlukan untuk menentukan dari mana arah pendaratan pesawat," katanya.
Senada dengan Zulham, staf otoritas bandara Wilayah VI Roderta Setiano, dan Aditia dari Konsultan Bandara, secara prinsip setuju dengan lokasi bandara itu.
"Lokasinya cukup bagus dan strategis. Tapi harus ditinjau lagi dalam beberapa aspek, termasuk rencana perluasan kota ke depan. Minimal lokasi bandara dari pusat kota untuk pesawat besar seperti jet, butuh jarak 20 km. Tapi untuk jenis pesawat Foker 50 lokasi untuk Bandara Payakumbuh sudah lebih baik dari bandara di Pasaman Barat," kata Aditia.
Tim yang terdiri dari unsur Otoritas Bandara Wilayah VI dan Badan Meteologi dan Geofisika serta Konsultan Bandara dari Jakarta tersebut dipimpin Plt Kabid Perhubungan Udara Dishubkom Sumbar, Zulham.
Tim tekhnis provinsi itu didampingi Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi, Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi Adrian, Kepala Bidang Binamarga Dinas Pekerjaan Umum diwakili Zul Arman, Asisten I Yoherman, Asisten II Benni Warlis, serta ketiga staf ahli wali kota turun ke rebcana lokasi bandara di kawasan Tanjung Anau, Talawi dan Balai Betung, Kecamatan Payakumbuh Utara.
Plt. Kabid Perhubungan Udara, Zulham, didampingi Kasi Angkutan Udara, Efnida, menilai rencana lokasi yang disiapkan Pemkot Payakumbuh untuk bandara, cukup baik. Luas minimal 200 hektar sangat memadai, kontur alamnya juga terbuka dan bebas pandang.
Meski demikian menurut Zulham, pihaknya masih butuh lama untuk dapat mengeluarkan rekomendasi, apakah di kawasan yang direncanakan Pemkot Payakumbuh itu tepat dijadikan bandar udara.
"Yang jelas semangat Wali Kota Payakumbuh, Riza Falepi bersama masyarakat Payakumbuh membangun bandara ini sangat pantas diapresiasi," kata Zulham.
Syafrizal anggota tim dari Badan Metreologi dan Geofisika menambahkan, untuk menentukan arah angin saja, minimal satu bulan dilakukan pengujiannya yang tidak boleh terputus.
"Idealnya, menentukan arah angin, memakan waktu tahunan. Karena arah angin ini sangat diperlukan untuk menentukan dari mana arah pendaratan pesawat," katanya.
Senada dengan Zulham, staf otoritas bandara Wilayah VI Roderta Setiano, dan Aditia dari Konsultan Bandara, secara prinsip setuju dengan lokasi bandara itu.
"Lokasinya cukup bagus dan strategis. Tapi harus ditinjau lagi dalam beberapa aspek, termasuk rencana perluasan kota ke depan. Minimal lokasi bandara dari pusat kota untuk pesawat besar seperti jet, butuh jarak 20 km. Tapi untuk jenis pesawat Foker 50 lokasi untuk Bandara Payakumbuh sudah lebih baik dari bandara di Pasaman Barat," kata Aditia.
Kamis, 25 Oktober 2012
Inilah Jadwal Pacu Terbang Itiak di Payakumbuh dan Limo Puluah Kota
Jadwal Pacu Terbang Itiak di Kabupaten Limo Puluah Kota dan Payakumbuh
3 – 4 November 2012
Kelurahan Bodi, Kec. Payakumbuh Timur
Kota Payakumbuh
10 – 11 November 2012
Jorong Padang Panjang, Nagari Padang Panjang Tanjuang Haro Sikabu-kabu
Kec. Luak, Kab. Limo Puluah Kota
17 – 18 November 2012
Jorong Tanjuang Simantuang, Nagari Situjuah Gadang
Kec. Situjuah Limo Nagari, Kab. Limo Puluah Kota
24 -25 November 2012
Padang Cubadak
Jln. Ir. Sutami
Kel. Sicincin Mudiak, Kec. Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh
01 – 02 Desember 2012
Jorong Padang Panjang, Nagari Padang Panjang Tanjuang Haro Sikabu-kabu
Kec. Luak, Kab. Limo Puluah Kota
Sabtu, 06 Oktober 2012
Inilah Dia "Flying Duck" Alias "Pacu Itiak"
hariansinggalang.co.id | Matahari bersinar dengan garangnya, ada sedikit awan bergumpal di langit, seperti terpisah dari kelompoknya yang hilang entah kemana. Langit biru jernih seperti lukisan di ruang tamu rumah pejabat tinggi.
Start
Di sepanjang jalan terpasang berbagai umbul-umbul serta bendera beraneka warna dari berbagai gelanggang di Limapuluh Kota dan Payakumbuh. Saat itu di daerah Tanjuang Haro, kecamatan Luak, tengah diadakan alek anak nagari yang sudah dilaksanakan secara turun temurun. Alek anak nagari tersebut bernama pacu itiak (balap bebek/flying duck).
[caption id="attachment_3889" align="alignleft" width="400" caption="Pacu Itiak (Foto: Erison J. Kambari)"]
[/caption]
Beberapa ekor itiak terbang seperti hendak menusuk langit. Namun tidak. Itiak itu terbang tak terlalu tinggi, namun memukau. Mana pula ada di daerah lain, itiak bisa terbang jauh, tapi di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, bisa.
Pacu itiak merupakan alek anak nagari yang sudah mendarah daging bagi masyarakat di Limapuluh Kota dan Payakumbuh. Kalau alek pacu itiak tak digelar, seperti ada yang kurang dalam kehidupan masyarakat.
“Iko yo sabana tradisi di nagari ko, kalau indak ado pacu itiak ko, saraso ado yang ilang,” ujar Bujang, salah seorang pecandu pacu itiak pada Singgalang, Minggu (30/9).
Memang, bagi sebagian nagari yang ada di Limapuluh Kota bagian selatan, kebanyakan masyarakatnya adalah memelihara itiak (peternak itik). Mereka melatih itiak untuk dapat terbang bukan hal yang asing lagi, karena sehari-hari mereka sudah bergelut dengan hal itu.
Keberadaan atraksi tradisional pacu itiak memang sudah dimulai sejak lama di Luak Nan Bungsu. Itu terbukti dari pagelaran acara yang sudah dimulai sejak 1928. Di era 60-an kegiatan tersebut sempat terhenti karena terjadi pergolakan di dalam negeri. Namun demikian, 1962 alek itu kembali digelar di nagari-nagari. Sampai sekarang masih tetap dipertahankan di Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota.
Saat ini terdapat 12 gelanggang yang rutin melakukan kagiatan pacu itiak. Di Payakumbuh, terutama masyarakat Nagari Aur Kuniang, Sicincin Mudiak, Balai Panjang, Ampangan serta Bodi Air Tabit adalah daerah yang rutin melaksanakan kegiatan tersebut, bahkan sudah masuk kalender pariwisata daerah Payakumbuh. Sedangkan di Limapuluh Kota, di antaranya di kenagarian Sikabu Kabu, Tanjuang Haro, serta Taram dan Kecamatan Harau.
Ketua Persatuan Olahraga Terbang Itik (Porti) Payakumbuh dan Limapuluh Kota YB. Dt. Parmato Alam, mengatakan, ajang pacu itiak ini merupakan satu-satunya di Indonesia, atau mungkin juga di dunia. “Kami rasa di Indonesia maupun di dunia hanya ada satu ajang ini, yaitu di Luak Limopuluah ini. Jadi sangat banyak yang penasaran dengan acara ini sehingga ikut menonton, seperti dari daerah tetangga, Batu Sangkar dan Agam. Bahkan bule pun sering ikut menonton. Beberapa kegiatan sebelumnya, sejumlah fotografer dari berbagai daerah di Sumbar ikut mengabadikan momen pacu itiak ini,” ujar pak Datuak.
Menurut Dt. Parmato Alam, awalnya ajang ini bukan dipertandingkan di jalanan, tapi di tengah sawah. Tapi karena peserta yang banyak dan berasal dari 12 gelanggang yang ada, jadi tidak memungkinkan lagi dilaksankan di sawah. Untuk itu dicoba mengalihkan ke jalanan. Hal lain yang membuat pacu itiak ini unik adalah itiak yang digunakan bukanlah sembarang itiak, tapi pilihan. Karena tidak semua itiak dapat terbang. Untuk kategori ini, itiak yang dipilih harus mempunyai warna kaki dan paruh yang sama serta mempunyai bulu yang tebal seperti bulu elang.
“Sedangkan untuk kelas yang akan diperlombakan juga ada. Seperti kelas 800, 1.000, 1.200, 1.400, 1.600 dan boko atau kelas istimewa. Tiap-tiap kelas disediakan hadiah dan tabanas dari para sponsor. Yang lebih menarik lagi kegiatan ini bukan hanya sebagai lomba saja, tapi juga untuk ajang gengsi bagi pemilik itiak yang berpacu dan juga gelanggang yang mengusungnya. Karena setiap itiak yang menang akan menambah tinggi harga jualnya,” katanya.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh salah seorang pemilik itiak yang menyertakan itiaknya berpacu sore kemarin. “Pacu itiak ini hanya sebagai hobi saja, tapi juga bisa untung karena kalau itiak kita bisa menang, apalagi sering jadi juara harganya bisa melambung tinggi. Yang dulu harganya hanya berkisar Rp35 ribu sampai Rp75 ribu, kalau juara bisa dihargai orang diatas Rp1,5 juta,” ujar Een, yang itiaknya juara sore itu.
Alek pacu itiak untuk tahun ini sudah dimulai sejak 15 September lalu dan akan berakhir pada 9 Desember mendatang. Pelaksanaannya digilir dalam 12 gelanggang yang ada, setiap hari Sabtu dan Minggu.
Start
Di sepanjang jalan terpasang berbagai umbul-umbul serta bendera beraneka warna dari berbagai gelanggang di Limapuluh Kota dan Payakumbuh. Saat itu di daerah Tanjuang Haro, kecamatan Luak, tengah diadakan alek anak nagari yang sudah dilaksanakan secara turun temurun. Alek anak nagari tersebut bernama pacu itiak (balap bebek/flying duck).
[caption id="attachment_3889" align="alignleft" width="400" caption="Pacu Itiak (Foto: Erison J. Kambari)"]
Beberapa ekor itiak terbang seperti hendak menusuk langit. Namun tidak. Itiak itu terbang tak terlalu tinggi, namun memukau. Mana pula ada di daerah lain, itiak bisa terbang jauh, tapi di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, bisa.
Pacu itiak merupakan alek anak nagari yang sudah mendarah daging bagi masyarakat di Limapuluh Kota dan Payakumbuh. Kalau alek pacu itiak tak digelar, seperti ada yang kurang dalam kehidupan masyarakat.
“Iko yo sabana tradisi di nagari ko, kalau indak ado pacu itiak ko, saraso ado yang ilang,” ujar Bujang, salah seorang pecandu pacu itiak pada Singgalang, Minggu (30/9).
Memang, bagi sebagian nagari yang ada di Limapuluh Kota bagian selatan, kebanyakan masyarakatnya adalah memelihara itiak (peternak itik). Mereka melatih itiak untuk dapat terbang bukan hal yang asing lagi, karena sehari-hari mereka sudah bergelut dengan hal itu.
Keberadaan atraksi tradisional pacu itiak memang sudah dimulai sejak lama di Luak Nan Bungsu. Itu terbukti dari pagelaran acara yang sudah dimulai sejak 1928. Di era 60-an kegiatan tersebut sempat terhenti karena terjadi pergolakan di dalam negeri. Namun demikian, 1962 alek itu kembali digelar di nagari-nagari. Sampai sekarang masih tetap dipertahankan di Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota.
Saat ini terdapat 12 gelanggang yang rutin melakukan kagiatan pacu itiak. Di Payakumbuh, terutama masyarakat Nagari Aur Kuniang, Sicincin Mudiak, Balai Panjang, Ampangan serta Bodi Air Tabit adalah daerah yang rutin melaksanakan kegiatan tersebut, bahkan sudah masuk kalender pariwisata daerah Payakumbuh. Sedangkan di Limapuluh Kota, di antaranya di kenagarian Sikabu Kabu, Tanjuang Haro, serta Taram dan Kecamatan Harau.
Ketua Persatuan Olahraga Terbang Itik (Porti) Payakumbuh dan Limapuluh Kota YB. Dt. Parmato Alam, mengatakan, ajang pacu itiak ini merupakan satu-satunya di Indonesia, atau mungkin juga di dunia. “Kami rasa di Indonesia maupun di dunia hanya ada satu ajang ini, yaitu di Luak Limopuluah ini. Jadi sangat banyak yang penasaran dengan acara ini sehingga ikut menonton, seperti dari daerah tetangga, Batu Sangkar dan Agam. Bahkan bule pun sering ikut menonton. Beberapa kegiatan sebelumnya, sejumlah fotografer dari berbagai daerah di Sumbar ikut mengabadikan momen pacu itiak ini,” ujar pak Datuak.
Menurut Dt. Parmato Alam, awalnya ajang ini bukan dipertandingkan di jalanan, tapi di tengah sawah. Tapi karena peserta yang banyak dan berasal dari 12 gelanggang yang ada, jadi tidak memungkinkan lagi dilaksankan di sawah. Untuk itu dicoba mengalihkan ke jalanan. Hal lain yang membuat pacu itiak ini unik adalah itiak yang digunakan bukanlah sembarang itiak, tapi pilihan. Karena tidak semua itiak dapat terbang. Untuk kategori ini, itiak yang dipilih harus mempunyai warna kaki dan paruh yang sama serta mempunyai bulu yang tebal seperti bulu elang.
“Sedangkan untuk kelas yang akan diperlombakan juga ada. Seperti kelas 800, 1.000, 1.200, 1.400, 1.600 dan boko atau kelas istimewa. Tiap-tiap kelas disediakan hadiah dan tabanas dari para sponsor. Yang lebih menarik lagi kegiatan ini bukan hanya sebagai lomba saja, tapi juga untuk ajang gengsi bagi pemilik itiak yang berpacu dan juga gelanggang yang mengusungnya. Karena setiap itiak yang menang akan menambah tinggi harga jualnya,” katanya.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh salah seorang pemilik itiak yang menyertakan itiaknya berpacu sore kemarin. “Pacu itiak ini hanya sebagai hobi saja, tapi juga bisa untung karena kalau itiak kita bisa menang, apalagi sering jadi juara harganya bisa melambung tinggi. Yang dulu harganya hanya berkisar Rp35 ribu sampai Rp75 ribu, kalau juara bisa dihargai orang diatas Rp1,5 juta,” ujar Een, yang itiaknya juara sore itu.
Alek pacu itiak untuk tahun ini sudah dimulai sejak 15 September lalu dan akan berakhir pada 9 Desember mendatang. Pelaksanaannya digilir dalam 12 gelanggang yang ada, setiap hari Sabtu dan Minggu.
Kamis, 07 Juni 2012
Selasa, 29 Mei 2012
Tour de Singkarak Stage III, Payakumbuh - Istano Baso Pagaruyuang
[caption id="attachment_2834" align="aligncenter" width="620" caption="tour de singkarak 2012"]
[/caption]




Tour de Singkarak Stage II, Muaro Sijunjung - Payakumbuh - Harau
[caption id="attachment_2834" align="aligncenter" width="620" caption="tour de singkarak 2012"]
[/caption]




Langganan:
Postingan
(
Atom
)



















